Senin, 26 Mei 2008

Jangan Asal SEMPROT, Bahaya!


Semprot dulu, soal bahaya urusan belakangan. Ai..h, aih.. semoga tak
seenteng itu pula pada praktiknya.
Apalagi jika itu menyangkut semprot-menyemprot obat antinyamuk atau
pengharum ruangan. Bakal jadi apa ruang udara di sekitar kita nanti.
Zaman kini memang zaman instan. Nyamuk, semut, lalat datang, semprot
saja. Mereka langsung kabur. Bau busuk menyengat menyerbu ruang duduk,
semprot juga. Bau tak sedap juga hilang. Mudah, praktis, dan yang
lebih penting ampuhnya itu lo. Urusan jadi cepat terselesaikan.
Gambaran seperti itu mungkin erat menempel di benak para konsumen di
Indonesia, sehingga sangat tergantung pada produk yang gencar tampil
di berbagai iklan. Celakanya, mereka tidak menghayati benar betapa
besar ancamannya jika menggunakan produk semacam itu secara
sembarangan. Bukan hanya terhadap kesehatan si pemakai tapi juga
sampah ikutannya yang bisa-bisa masuk kategori sampah bahan berbahaya
dan beracun alias B3, yang secara umum dapat meracuni alam dan
penghuninya.


Bagaimana tidak. Karakteristik B3 di antaranya mudah meledak; mudah
terbakar; bersifat reaktif alias menghasilkan reaksi kimia yang
melepaskan uap beracun atau ledakan bila terkena air, udara atau bahan
kimia lain; beracun, baik secara akut maupun kronik; korosif, atau
menyebabkan infeksi. Bahkan, ada lembaga yang menambahkan unsur bahaya
radioaktif, alias mampu merusak dan menghancurkan sel dan kromosom
yang dapat menyebabkan kanker, mutasi, dan kerusakan janin.


Bahan kimia berbahaya dapat masuk ke dalam tubuh melalui tiga cara.
Termakan atau terminum bersama makanan atau minuman yang tercemar,
dihirup dalam bentuk gas dan uap, termasuk yang langsung menuju
paru-paru lalu masuk ke dalam aliran darah. Atau terserap melalui
kulit dengan atau tanpa terlebih dahulu menyebabkan luka pada kulit.


Masalah lain, khususnya berkaitan dengan produk beraerosol, adalah
penipisan lapisan ozon stratosfer. Ozon stratosfer berperan melindungi
kehidupan di bumi dari radiasi ultra ungu. Program lingkungan PBB
(UNEP) memperkirakan tingkat penipisan ozon sekarang ini akan
menimbulkan penambahan jumlah penderita penyakit kanker kulit secara
signifikan, termasuk melanoma ganas, dan pengidap katarak. Belum lagi
ancaman pelemahan sistem kekebalan tubuh manusia, kerusakan pada
produk pertanian, dan penurunan populasi phytoplankton pada dasar
rantai pangan kelautan.
Studi YLKI menunjukkan, konsumsi CFC berdasarkan sektor konsumen
terbanyak dalam aerosol 30%, dibandingkan dalam produk lain semisal,
AC, lemari es, dll.


Pestisida, ya memang racun
Namanya juga pestisida atau racun pembasmi hama, jadi pastilah
mengandung racun.
Bila racun antinyamuk termasuk kelompok itu, artinya obat antinyamuk
juga mengandung racun. Hal itu dibuktikan dalam Penelitian YLKI yang
menemukan tiga bahan aktif di dalam obat antinyamuk yaitu jenis
dichlorvos, propoxur, pyrethroid, dan diethyltoluamide serta bahan
kombinasi dari ketiganya.


Menurut WHO Grade Class, dichlorvos atau DDVP (dichlorovynill dimetyl
phosphat) termasuk berdaya racun tinggi. Jenis bahan aktif ini dapat
merusak sistem saraf, mengganggu sistem pernapasan, dan jantung.
Lembaga di Amerika yang bergerak dalam perlindungan lingkungan yakni
Environment Protection Authority (US EPA) dan New Jersey Department of
Health merekomendasikan hal sama.


Dichlorvos sangat berpotensi menyebabkan kanker, menghambat
pertumbuhan organ serta kematian prenatal, merusak kemampuan
reproduksi, dan menghasilkan susu. Bagi lingkungan, bahan aktif jenis
ini menimbulkan gangguan cukup serius bagi hewan dan tumbuhan, sebab
bahan ini memerlukan waktu yang lumayan lama untuk dapat terurai baik
di udara, air, dan tanah.


Sementara, propoxur termasuk racun kelas menengah. Jika terhirup
maupun terserap tubuh manusia dapat mengaburkan penglihatan, keringat
berlebih, pusing, sakit kepala, dan badan lemah. Propoxur juga dapat
menurunkan aktivitas enzim yang berperan pada saraf transmisi, dan
berpengaruh buruk pada hati dan reproduksi.


Pyrethroid oleh WHO juga dikelompokkan dalam racun kelas menengah.
Efeknya, mengiritasi mata maupun kulit yang sensitif, dan menyebabkan
penyakit asma. Pada obat antinyamuk, pyrethroid yang digunakan berupa
d-allethrin, transflutrin, bioallethrin, pralethrin, d-phenothrin,
cyphenothrin, atau esbiothrin. Untuk obat antinyamuk jenis oles, zat
aktif yang tercantum pada label adalah DEET Diethyltoluamid. Efeknya
juga mengiritasi kulit, selain membahayakan kulit yang luka, dan
selaput lendir tubuh.


Berbicara soal semua bahaya itu, harian Warta Kota sampai memberitakan
bahwa pemerintah harus segera menarik seluruh produk obat antinyamuk
cair dan bakar yang mengandung bahan-bahan berbahaya tersebut. Itu
karena, menurut Amir Hamzah Pane, Ketua Umum Indonesian Pharmaceutical
Watch (IPhW), "Pemerintah telah lalai, meregistrasi produk yang
membahayakan kesehatan tetapi tidak mencantumkan label indikasinya."


Ironisnya, ada merek pestisida yang kemasannya justru bergambar
bunga-bunga. Ini tentu bisa menjerumuskan konsumen yang mengiranya
sebagai produk aman, atau bahkan menganggapnya sekadar produk
pengharum ruangan. Begitu juga dengan klaim "lembut dan wangi".
Bagaimana pula dengan klaim "ramah lingkungan"? Sering hanya berhenti
pada klaim, tanpa mencantumkan bahan pengganti CFC. Jadi?


Harum, bukan berarti aman


Tahun 1986 the National Academy of Sciences AS menentukan pengharum,
termasuk di dalamnya pengharum ruangan, sebagai salah satu dari enam
kategori bahan kimia yang perlu mendapatkan uji kemampuan meracuni
saraf. Itu karena, menurut www.therapure.com, kebanyakan pengharum
ruangan bekerja dengan mengganggu daya cium. Pengharum tersebut
melapisi saluran hidung dengan selaput minyaknya, atau melepaskan zat
pemati saraf pencium!


Lembaga itu menyatakan, hampir sepertiga bahan kimia tambahan dalam
parfum dan produk wewangian masuk kategori beracun. Bahkan produk yang
tak mengandung "pewangi" pun sebenarnya menambahkan "pewangi" yang
tidak wangi untuk menyamarkan aroma khas bahan tertentu.


Berbeda dengan obat antinyamuk yang digunakan secara lebih terbatas,
pemakaian produk pengharum ruangan justru cenderung tanpa aturan
jelas. Bebas disemprotkan ke seluruh ruangan duduk, digantung dekat
AC, dipasang di dalam mobil. Lalu bahan kimia itu akan secara teratur
menguap ke udara, menempel di rambut, pakaian, bahkan di berbagai
perabot di sekitar kita. Bisa dibayangkan, bagaimana bila bahan kimia
ini terhirup atau masuk aliran darah?


Hal itu didukung laporan National Institute of Occupational Safety and
Health yang menyatakan, dari 2.983 bahan berbahaya sekitar 884-nya
digunakan dalam industri wewangian.


Sedangkan bahan kimia berbahaya dalam pengharum ruangan, dari
penelitian mereka, di antaranya butane, propane, amonia, fenol, dan
formaldehyde.


Efeknya pada kesehatan manusia antara lain mengiritasi mata, hidung,
tenggorok, kulit, mengakibatkan mual, pusing, perdarahan, hilang
ingatan, kanker dan tumor, kerusakan hati, menyebabkan iritasi ringan
hingga menengah pada paru-paru, termasuk gejala seperti asma.


Sedangkan bahan lainnya seperti benzyl acetate, benzyl alcohol,
ethanol, limonene, dan linalool bisa menyebabkan muntah, turunnya
tekanan darah, merusak sistem kekebalan tubuh, menurunkan kemampuan
motorik spontan, dan depresi.


Yang jelas, laporan itu menguatkan publikasi National Institutes of
Health dalam tajuk "Issues and Challenges in Environmental Health"
yang menyebutkan bertambahnya penderita gangguan reaksi alergi dan
hipersensitif. Malah kondisi itu telah menjadi masalah yang
memprihatinkan karena jumlah pengidapnya mencapai sedikitnya
35.000.000 warga Amerika Serikat. Saat mencium parfum tertentu, para
penderita itu secara berbeda menampilkan gejala alergi mulai bersin,
terbatuk-batuk, atau mata berkaca-kaca, pusing, sesak napas, dll.


Celakanya, dari amatan di lapangan, beberapa produk pengharum ruangan
tidak menyebutkan kandungan bahan. Itu pula sebabnya, YLKI
menganjurkan untuk membatasi penggunaan pengharum ruangan, khususnya
bagi mereka yang sensitif.


Bersih lingkungan


Di lingkungan rumah tangga, sebenarnya hanya beberapa binatang kecil
yang perlu dibasmi, misalnya bila menyebarkan penyakit, merusak
tanaman, merusak makanan, atau merusak bangunan.
Itupun sebisa mungkin dengan cara yang tidak membahayakan lingkungan.


Usaha pertama adalah mencegah masuknya hama ke dalam rumah. Misalnya
menggunakan tirai atau kawat nyamuk, menutup lubang dan celah-celah,
menjaga kebersihan rumah dari sampah tercecer atau tertimbun, serta
menjaga tempat sampah selalu tertutup. Meletakkan perangkap nyamuk
atau tikus di lokasi-lokasi strategis.


Langkah berikut, memusnahkan habitat hama dengan secara rutin
membersihkan rumah dan halaman, terutama tempat-tempat persembunyian
hama seperti nyamuk, lalat, dan kecoa, serta memusnahkan
telur-telurnya. Kecoa cenderung tinggal dan bertelur di tempat-tempat
terlindung yang hangat seperti sudut rak dan laci, di celah-celah kayu
yang lembap, di bawah tempat cuci piring, dan tempat-tempat sampah.
Lalat senang tinggal di tempat sampah, tempat-tempat lembap dan bau,
seperti alas tidur binatang peliharaan dan tempat menyimpan kompos.
Nyamuk berkembang biak di air tergenang seperti di parit, dalam
ban-ban bekas, dalam vas yang lama tidak diganti, dan kubangan sekitar
rumah. Membersihkan debu di rak-rak buku, lemari pakaian, meja tulis
rak-rak makanan, wadah makanan, dan sudut-sudut rumah akan membantu
mengurangi serangan hama.


Untuk mengusir hama, sebaiknya dipergunakan pestisida organik dan
pengusir hama dari tumbuh-tumbuhan yang mudah terurai di alam. Meski
diakui efektivitas pestisida organik tidak seketika, alias perlu
aplikasi berulang-ulang. Misalnya: Membakar kulit duku atau kulit
durian kering dapat mengusir nyamuk. Menaruh daun mindi kering di
bawah kasur dapat mengusir kutu busuk dan bila ditaruh di bawah alas
tumpukan baju di dalam lemari pakaian dapat mengusir kutu baju. Wangi
alami bunga lavender, minyak cengkeh untuk mengusir kutu baju, nyamuk,
kecoa, dan lalat. Yang tak kalah asyik, menangkap nyamuk dengan
menggunakan pemukul nyamuk listrik, atau bagian dalam tutup panci yang
diolesi minyak goreng. Sementara mencegah serangan nyamuk kala santai
bisa dioleskan minyak kayu putih atau minyak tawon.


Pestisida sintetis memang harus dibiasakan menjadi alternatif
terakhir. Itu pun harus dipilih yang tidak terlalu berbahaya bagi
manusia dan lingkungan, serta digunakan dalam dosis rendah. Bila
menggunakan metode ini sebaiknya bersamaan dengan metode-metode ramah
lingkungan lain.


Udara segar alami


Bagaimana dengan bebauan tak enak di dalam rumah? Hal itu tak perlu
dikhawatirkan benar bila rumah memiliki ventilasi yang baik dengan
sirkulasi udara yang lancar dan penerangan alami yang memadai.
Namun, ada kalanya untuk membangkitkan suasana pada momen tertentu
aroma wangi khas diperlukan. Daripada menggunakan beberapa merek
pengharum ruangan yang tak jelas kandungan bahan kimianya, bisa dicoba
pewangi alamiah, misalnya irisan daun pandan, kuntum melati, atau
mawar.


Tanpa sadar sebenarnya cara tersebut merupakan praktik aromaterapi.
Selain cara tradisional itu, ada cara praktis dan cukup aman, yakni
menggunakan minyak atsiri. Minyak atsiri merupakan cairan lembut,
bersifat aromatik, dan mudah menguap pada suhu kamar. Minyak atsiri
diperoleh dari ekstrak bunga, biji, daun, kulit batang, kayu, dan akar
tumbuh-tumbuhan tertentu. Satu jenis minyak atsiri, umumnya memiliki
beberapa khasiat berbeda, misalnya sebagai antiseptik dan antibakteri.


Penelitian menunjukkan, minyak atsiri yang disemprotkan ke udara
membantu menghilangkan bakteri, jamur, bau pengap, dan bau yang tidak
mengenakkan. Selain menyegarkan udara, aroma alami minyak atsiri juga
dapat mempengaruhi emosi dan pikiran, serta menciptakan suasana
tenteram dan harmonis.


Minyak atsiri murni adalah substansi yang amat kuat, 75 - 100 kali
lebih potensial dibandingkan bahan asalnya. Karenanya dalam
penggunaannya harus hati-hati, misalnya dengan selalu melarutkannya
dengan cairan pembawa. Penguap, penyemprot listrik, dan penyemprot
aroma khusus dapat digunakan untuk menyebarkan minyak atsiri dalam
ruangan. Untuk penggunaan pertama kali atau jika belum terbiasa,
gunakan minyak atsiri seperlunya saja.


Agaknya mulai sekarang kita perlu melatih diri-sendiri dan lingkungan
untuk menggunakan bahan-bahan aman bagi kesehatan dan lingkungan.
Kalau bukan kita sendiri yang memulai, siapa lagi?


Minggu, 25 Mei 2008

Sampah Berpotensi Besar Jadi Sumber Energi


Keterbatasan cadangan sumber minyak bumi memaksa banyak pihak memikirkan berbagai kemungkinan energi alternatif. Gagasan terbaru muncul Rabu kemarin dari General Electric (GE). Perusahaan Amerika Serikat itu kini sedang menggarap sejenis kimia modern untuk mengubah sampah menjadi tenaga listrik.

GE berupaya mengadaptasi teknologi gasifikasi. Teknologi gasifikasi adalah teknologi yang dipakainya untuk membakar batu bara secara lebih jernih. GE ingin memanfaatkan teknologi itu untuk mengubah sampah perkotaan menjadi gas bakar yang relatif bersih.

Bahan padat dari sampah dipanaskan hingga temperatur 1.400 derajat Celcius sehingga material tersebut berubah menjadi senyawa gas. Gas itu kemudian dikonversi menjadi bahan bakar sintetis (disebut syngas). Syngas pada umumnya bersih dari zat polutan yang bisa dibakar dalam turbin energi listrik.



Material yang tidak bisa dikonversi menjadi gas, misalnya beberapa jenis besi dan mineral, diubah menjadi senyawa cair dan kemudian didinginkan menjadi senyawa padat (slag). Senyawa itu sangat stabil seperti batu karang, sehingga tidak mungkin meleleh ke luar. Dengan demikian, bahan itu cukup aman untuk digunakan sebagai material konstruksi.

Tantangan yang harus diatasi adalah, bagaimana agar proses pengolahan sampah itu secara konstan menghasilkan batu bara. ’’Kami masih meneliti keragaman sampah padat perkotaan,’’ kata Kelly Fletcher, ketua divisi teknologi lanjut pada Pusat Riset GE di Niskayuna, New York.

’’Ibaratnya, sampah keluar-masuk,’’ kata Fletcher. ’’Kami harus merumuskan dengan teliti sistem gasifikasi yang sesuai dengan aliran suplai material sampah.’’

Gas Polutan

Kelompok-kelompok lingkungan sejak lama menentang proses pembakaran sampah. Sebab, proses itu menimbulkan gas-gas polutan dan menghasilkan abu berbahaya. Meski demikian, sebagian kalangan terbuka pada gagasan gasifikasi limbah padat.

’’Kami terbuka pada teknologi-teknologi yang bisa menangani sampah perkotaan dan menciptakan produk bermanfaat,’’ kata Dave Hamilton, direktur energi dan pemanasan global pada Sierra Club di Washington. ’’Kami tertarik dengan gagasan itu.’’

Sebetulnya, banyak perusahaan sudah memproduksi energi dari sampah. Yakni, dengan cara menangkap gas metan yang dihasilkan sampah yang membusuk. Gas metan ini sering pula disebut dengan istilah biogas.

Namun, proses gasifikasi itu bisa mengurangi prosedur timbun (landfill) dan bakar yang biasa digunakan pada tempat pembuangan sampah. Dengan gasifikasi, sampah tidak perlu membusuk dan menghasilkan metan. Sebab, gas metan berpotensi 20 kali lebih besar menimbulkan efek rumah kaca dibandingkan gas karbondioksida.

Beberapa kota seperti Florida, California, Louisiana, dan Michigan kini sedang mempertimbangkan dan merencanakan pembangunan fasilitas gasifikasi sampah. Fletcher memperkirakan, GE hanya butuh waktu lima sampai 10 tahun lagi untuk menjadikan gasifikasi sampah itu sebagai industri energi yang menguntungkan.
Tidak heran, bagi Fletcher dan kawan-kawan, sampah bukan lagi sampah. ’’Kami tidak lagi mau menggunakan kata sampah, sebab material itu adalah sumber energi menjanjikan di masa depan,’’ tuturnya.(rtr-gn-25)

Memanfaatkan Sampah Sebagai Sumber Energi


SAMPAH BERPOTENSI SEBAGAI SUMBER ENERGI

Kebutuhan energi Indonesia akan terus meningkat baik oleh pertambahan penduduk maupun oleh meningkatnya aktifitas sektor industri maupun transportasi. Pada bagian lain, sebagian besar pasokan energi berasal dari sumber energi fosil yang tidak terbarukan.

Dengan demikian ketergantungan terhadap sumber energi fosil ini harus terus dikurangi dengan memanfaatkan berbagai potensi sumber energi terbarukan seperti air, panasbumi, angin, tenaga matahari dan sampah.

Sampah merupakan produk sehari-hari yang membutuhkan lahan yang semakin luas. Dewasa ini bahkan Pemerintah Daerah DKI Jakarta kesulitan untuk mencari lahan tempat pembuangan sampah karena pada umumnya selalu mendapat protes dari masyarakat yang tinggal disekitar lokasi tempat pembuangan. Dampak lingkungan tempat pembuangan sampahpun cukup bervariasi dari kemungkinan tercemarnya air tanah, udara maupun sumber penularan penyakit yang disebarkan oleh lalat dan nyamuk.

Pemanfaatan sampah sebagai sumber listrik menjadi salah satu alternatif yang cukup menarik untuk dikaji. Hasil pembakaran sampah dapat dikonversi melalui kombinasi proses biologis dan thermal untuk membangkitkan listrik dan sekaligus mengurangi pencemaran air, udara maupun tanah. Dari aspek ekonomi, menurut penelitian, sebuah pembangkit listrik berkapasitas 18 MW dapat dibangun dengan nilai investasi sebesar US$ 32 juta atau diatas US$ 2000/kW dengan mengolah 1500 ton sampah per hari yang setara dengan rata-rata jumlah sampah yang dihasilkan oleh DKI Jakarta. Memang nilkai investasi ini masih cukup tinggi apabila dibandingkan dengan pembangkit lainnya khususnya batubara (US$ 900-1250/kW) atau gas ( US$ 350-400/kW). Namun dimasa depan, harga ini diperkirakan akan semakin turun seiring dengan meningkatnya teknologi pemanfaatan sampah sebagai sumber energi. Menurut Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, perlu diupayakan strategi yang terpadu dari semua pihak untuk dapat memanfaatkan sampah sebagai sumber energi. Alternatif yang cukup potensial adalah dengan memanfaatkan dana Clean Development Mechanism (CDM) yang diatur dalam Protokol Kyoto. Bahkan, bila kapasitasnya dibawah 15 MW, proyek ini dapat digolongkan kedalam "fast track" sehingga proses administrasinya menjadi lebih cepat dan lebih murah. Alternatif lainnya adalah dengan memisahkan pengelolaan sampah sampai dengan menghasilkan uap yang kemudian siap digunakan di pembangkit listrik. Kegiatan produksi uap dapat didanai dari usaha pengelolaan sampah yang saat ini dibebankan kepada masyarakat atau biaya investasi dan produksi uap berasal dari dana pengelolaan sampah yang kemudian disalurkan ke pembangkit listrik yang dibangun berdekatan dengan lokasi sampah. Bila hal ini dapat dilakukan maka harga listrik dari sumber ini dapat ditekan dan lebih ekonomis.